Mengenai Saya

Foto saya
Bengkulu, Bengkulu, Indonesia
saya berasala dari sebuah air yang hina, dan terus menjadi segumpal darah, segumpal daging dan tumbuh tulang-belulang hingga sampai saat ini mejadi manusia yang sempurna..itu karena Allah..Thanks You Allah

Kamis, 15 Januari 2009

jeritan anak-anak Palestina



Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Betapa pun getirnya kenyataan itu, toh akhirnya memang harus ditelan. Karena hidup memang tak selamanya bisa memilih. Mohammad al-Durra, bocah Palestina berusia 12 tahun harus meregang nyawa ditembus peluru serdadu Yahudi Israel pada 30 September 2000 lalu saat terjadi bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga muslim Palestina di Netzarim, Jalur Gaza. Dan kalo kamu rajin baca berita, pasti bisa mendapatkan foto ‘ekslusif’ yang diabadikan oleh dua wartawan Palestina yang bekerja untuk TV Perancis. Foto tersebut seolah ‘berbicara’ dan menjelaskan bagaimana biadabnya serdadu Israel ketika membantai Mohammad al-Durra yang berada dalam pelukan ayahnya.

Mohammad al-Durra dan puluhan remaja seusianya harus rela kehilangan masa depan. Berjuta impian yang sudah dirajut harus punah dalam sekejap. Beribu harapan sirna dalam hitungan detik. Ya, itu adalah kenyataan yang memang pahit dan getir. Brur, ini akan terus terjadi dan bakal terulang bila ummat Islam cuma diam—atau paling banter cuma mengutuk—tapi tindakan nyata kita tak pernah ada. Jelas, itu akan membuat orang-orang Israel besar kepala, dan akan merasa enteng melenyapkan nyawa orang-orang Palestina. Republika melaporkan, sampai tanggal 3 Oktober saja sudah 57 orang tewas dan 1.000 lainya luka-luka. Kawan, itu saudara-saudara kita. Masihkah kita cuek alias nggak peduli dengan nasib saudara kita di sana?

Ya, Palestina kembali membara kawan, setelah Ariel Sharon (ketua Partai Likud, Israel) melakukan kunjungan kontroversialnya ke Masjid Al Aqsha di Yerusalem Timur, 28 September 2000. Karuan saja kunjungan tersebut diprotes warga Palestina karena dianggap penghinaan terhadap ummat Islam. Nah, sekarang kamu bakal diajak untuk mengasah kesadaran politik (wa’yu siyasi) sekaligus kepedulian kamu terhadap nasib saudara kita di kawasan Timur Tengah itu (tentang masalah politik, bisa kamu baca kembali Studia edisi 025/Tahun I).



Keberanian Anak Palestina

Sekitar 300 anak Palestina berusia antara lima hingga delapan tahun berkumpul di kantor Komite Palang Merah Internasional di Tyre, Lebanon Selatan. Mereka duduk di halaman itu sambil membawa sejumlah poster dan spanduk yang bernada marah. Bayangin Brur, mereka semuanya masih anak-anak, tapi pikirannya sudah ‘dewasa’. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya.

Dan mereka ternyata bukan cuma duduk-duduk doang Non, tapi juga ‘bersuara’ lewat spanduk yang mereka buat, seperti dikutip oleh Republika, 5 Oktober 2000 lalu. “Kami semua adalah saudara syuhada Mohammad al-Durra.” Lalu dalam spanduk lain berbunyi, “Israel telah membantai anak-anak Palestina.”

Brur, ternyata bukan cuma itu yang dilakukan anak-anak Palestina yang gagah berani ini. Para bocah yang berasal dari tiga tempat kamp pengungsi di Tyre itu bak orang dewasa saja. Mereka juga membawa sejumlah plakat yang bisa menggelorakan semangatnya.

“Berjuang dan angkat senjata, satu-satunya jalan untuk membebaskan tanah Palestina.” “Palestina bertanggungjawab terhadap semua yang ada pada kami,” bunyi lainnya.

Teman-teman remaja, dua hal yang bisa menganggap rintangan sebagai tantangan adalah semangat dan keberanian. Tentu keberanian yang berhasil dimunculkan dari akidah yang benar. Akidah Islam yang kuat dan bersih. Dan sekarang ‘kebetulan’ banyak dimiliki anak-anak Palestina.

“Saya ingin membunuh orang Israel seperti mereka membunuh saudara kami Mohammad al-Durra,” kata Mohammad Natour, 14 tahun. Heroik memang. Terlepas dari sikap emosional anak-anak, tapi yang pasti itulah kenyataannya.

Belum lagi semangatnya Khaled Hamad, 11 tahun, yang membalur lumpur di wajahnya dan mengangkat bendera Palestina lalu mengatakan, “Jika bisa menembak Israel, saya tidak ragu-ragu lagi.” Hebat. Lalu, Brur, masih ada anak yang mampu melihat dengan mata hati dan pikirannya, seperti Ihab al-Sadid, anak berumur 12 tahun ini sangat kesal dengan aksi brutalnya tentara Israel yang menembaki anak-anak Palestina, ia mengatakan, “Mereka membunuh anak-anak. Sebab, mereka takut kalau nanti besar dan akan melawannya.” Tuh, anak seumuran SD saja sudah bisa berpikir jauh ke depan. Tentu pikiran seperti itu nggak muncul begitu saja, tapi ada proses. Siapa tahu, memang anak-anak itu dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pejuang Islam yang gagah berani. Masih nggak percaya? Coba kamu simak pernyataan Ridha Saleh, anak berumur 13 tahun, dengan mengenakan seragam militer, dan meminta wartawan foto untuk mengambil gambarnya. Ia mengatakan, “Saya juga ingin mati syahid, dan hanya ingin mati di sana.” Wah, wah, wah, benar-benar hebat. Kamu bisa seperti adik kita itu? Harus bisa!



Palestina Tanah Kita

Khalifah Abdul Hamid II berkomentar dengan tegas, tatkala Theodore Hertzl (penggagas gerakan Zionis) meminta tanah Palestina di tahun 1897, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku.” Mendengar komentar seperti ini karuan saja Hertzl murka. Bahkan lantaran komentar ini pula, ia kemudian melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan Khalifah.

Tentang Palestina ini, sebetulnya sudah dilindungi pula dengan sebuah perjanjian di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama Al Ihdat Al ‘Umariyyah (perjanjian Umar), yang berbunyi, “…atas nama Islam dan kaum Muslim. Isinya antara lain, ‘Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.” (Ibnu Jarir Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, pada judul “Iftitah Baitul Maqdis”—Penaklukan Baitul Maqdis).

Setelah Khilafah Islamiyyah (pemerintahan Islam) runtuh orang-orang Yahudi seperti menuntut balas. Maka dalam kondisi kaum muslim yang lemah mereka berusaha mencari dukungan Amerika dan PBB untuk mendirikan negara Israel Raya. Kamu bisa simak bagaimana para kekentong alias pentolan Yahudi ‘bersuara’ untuk mengesahkan tindakan brutal mereka dalam merampok tanah Palestina. “Negeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh karena itu, meminta pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang menggelikan,” teriak Golda Meir, PM wanita Israel pertama dengan sewotnya. “Negeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu berhak sepenuhnya atas tanah itu,” ujar Menachem Begin. Brur, orang inilah yang berhasil menggiring Presiden Anwar Sadat ke meja perundingan Camp David yang direkayasa oleh Amerika dan Israel sendiri.

Seperti satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang terkenal keji dan selalu menutup sebelah matanya berkomentar tak kalah menyakitkan, “Jika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula negeri injili,” Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin ‘gerah’ kita, “Negeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,” demikian pernyataan dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919. Wah, keterluan sekali “bangsa kera” itu, ya Brur? Yes, memang kurang ajar!

Tapi benarkah alasan mereka itu? Bohong besar Brur. Suer, kamu perlu tahu pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Roger Geraudy, seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam, “Ia sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia tegakkan sekarang ini,” tegasnya dalam buku yang ditulisnya, The Case of Israel a Study of Political Zionism.

Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita, bukan milik “bangsa kera” itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya berarti urusannya darah. Kita tegas aja, Brur!

Maka solusinya adalah seperti yang dilontarkan oleh salah seorang bocah palestina di atas. Apa itu? “Angkat senjata dan basmi orang-orang Yahudi Israel terkutuk itu!” Memang hanya itu satu-satunya jalan, nggak ada jalan lain. Jangan memaksakan berdamai, toh perundingan damai cuma buang waktu saja.

Bagaimana dengan Kita?

Ya, itu masalahnya. Kita dan anak-anak Palestina memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dengan anak-anak Palestina terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.

Sobat, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk mengusir serdadu Israel yang telah merampok tanah mereka. Kamu jangan cuek menyaksikan kejadian ini.

Coba, ketika anak-anak Palestina meregang nyawa ditembus peluru Israel, kira-kira kita sedang ngapain. Main basket? Atau tidur nyenyak? Atau malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironi bukan?

Juga, ketika teman-teman kita menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main gim? Pacaran? Nonton konser musik? Atau malah sedang asik melahap makanan ‘bule’ di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu dimana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?

Kawan, anak-anak Palestina sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat ulah orang-orang Yahudi yang menggasak tanah mereka dan mengusirnya bak pesakitan. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya ‘bersatu’ dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan, bahwa itu adalah orang lain? Tidak kawan, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau di negeri sendiri; Ambon, Aceh dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia ini adalah saudara kita. Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Kalau pun sekarang kita nggak merasa bahwa itu saudara kita karena kita menganggap beda daerah, beda bahasa, dan beda negara. Itu adalah kesalahan besar. Ya, salah besar sobat! Ternyata ide nasionalisme telah membuat ‘dinding tebal’ di antara kita. Sehingga kita nggak bisa ‘menengok’ saudara kita yang tengah menderita. Kita menjadi orang super cuek alias nggak mau peduli dengan urusan saudara kita sendiri. Tolong, sikap seperti itu jangan dipelihara, itu berbahaya bin gawat. Sekali lagi, kita bersaudara, bahkan seharusnya merasa sakit bila saudara kita disakiti dan merasa senang bila saudara kita berhasil. Sudahkah kita memiliki rasa itu?

Hadits ke-13 dari kumpulan Hadits Arba’in karya Imam Nawawi tertulis, “Dari Abu Hamzah (yaitu) Anas bin Malik r.a. pelayan Rasulullah saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam hadits yang lain, diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir r.a berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit” (HR. Bukhari-Muslim)

Dua hadits tadi cukup memberikan ‘sentuhan’ kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah ibarat satu tubuh. Kita bersaudara, sayang. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah ‘nyukurin’. Kan aneh ya, nggak? Nah, begitu pun dengan saudara kita di Palestina, mereka lagi menderita, gokil dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Itu namanya muslim ‘biadab’. Jangan sampe deh nurani kita begitu bebal. Kita kan bukan batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan ‘berjuta’ rasa lainnya. Sebaiknya memang kita merenungkan kembali firman Allah swt., sekaligus meneladani Rasul-Nya,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ

عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS: al-Fath: 29)

Kita harus peduli dengan nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk Palestina. Bisa kan, Brur?

Tentu Brur, bila Khilafah Islamiyyah (pemerintah Islam) belum runtuh, kejadiannya bakal lain. Suer, kamu lihat sikap Khalifah Abdul Hamid II begitu tegas dan berani menghadapi ‘rengekan’ Theodore Hertzl yang meminta tanah Palestina. Pernyataan Khalifah Abdul Hamid II sama saja dengan mengajak perang kepada kaum Yahudi, hebat bukan?

Jadi bagaimana sekarang? Memang solusi untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel adalah dengan mengangkat senjata. Berarti pemecahannya adalah dengan jihad. Kamu perlu tahu, bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi penduduk yang berada di daerah konflik (Palestina dan sekitarnya), sedangkan bagi yang jauh seperti kita di sini, ‘jatuhnya’ adalah fardhu kifayah (tapi kita harus siaga, siapa tahu orang Yahudi kemudian melipat-gandakan kekuatannya). Jadi langkah praktisnya, kita bisa mengirimkan bantuan baik berupa uang ataupun senjata untuk mereka. Ya, paling minimal banget wujud peduli kita adalah dengan mendoakan mereka supaya tetap kuat melawan orang-orang Yahudi itu, Brur!

Perbedaan seorang Muslim dengan Zionisme Israel.



* Zionisme Israel tidak segan-segan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Berdusta, memutarbalikan fakta, spionase dan pembunuhan berkedok, dll.

* Seorang Muslim dituntun oleh agamanya untuk selalu berbuat baik bagi umat manusia. Berkasih-sayang pada semua makhluk walaupun itu semut sekalipun. Sehingga terbuktilah secara nyata perbedaan aqidah seorang Muslim dengan Zionis.

* Bila Zionis Israel menghalalkan semua makhluk hidup diwillayah Lebanon, Gaza (Palestina) untuk dibunuh maka tidak dengan seorang Muslim (Hizbullah dan Hamas). Roket-roket mereka hanya tertuju untuk tentara Zionis saja dan bukan sipil.

* Seandainyalah kaum Muslim berprinsip sama dengan Zionis, maka bisa dipastikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan kurang dari 1 bulan seluruh kaum Yahudi di Israel ataupun Palestina pendudukan akan menjadi bangkai-bangkai berserakan dan hilang dari peta dunia, dikarenakan Hizbullah dan Hamas mempunyai pasukan berani mati (Syahid) yang tidak terlawan oleh nuklir sekalipun.

* Hingga hal ini sekaligus menjadi jawaban bahwa keberhasilan Zionis Israel membunuhi lebih dari 1000 orang Palestina di hari ke-19 Gaza ataupun lebih dari 1000 orang pada perang 33 hari Lebanon adalah kekalahan yang sangat memalukan.

* Bandingkan dengan Hizbullah yang jauh hari sebelum melancarkan roket kewilayah Israel mengumumkan pada rakyat sipil Israel agar menjauh dari lokasi-lokasi kota, desa yang akan dijadikan target serangan roket-roket mereka.

* Bandingkan juga dengan Hamas yang berprinsip yang sama dengan Hizbullah.

* Kenapa? Karena mereka adalah MUSLIM …

* Seandainya tidaklah karena tuntunan agama dan kasih sayang di dada mereka maka korban dipihak Israel tidak akan kalah dari korban rakyat Palestina, karena Hizbullah dan Hamas punya iman dan semangat jihad.

* Hal ini sekaligus menjadi jawaban, bahwa Hizbullah dan Hamas merupakan pasukan elit dan tertangguh didunia dikarenakan mereka berhasil membunuh tentara Zionis Israel lebih banyak dari pada tentara Israel itu sendiri. Sedangkan tentara Zionis adalah pecundang dan hebat dalam membunuhi rakyat sipil.

MENANGIS SAJA TAKKAN PERNAH CUKUP



Aku menuliskan posting ini sambil menangis diam-diam. Meski ku tahu, menangis saja takkan pernah cukup. Aku menuliskan posting ini dengan jari-jari yang gemetar, mungkin karena aku sedang takut. Takut pada pertanyaan Allah kelak tentang dimana aku ketika semua potret ini terjadi. Ya, POTRET INI! Lihatlah mereka DISINI! Lihatlah MEREKA!!!

Aku menulis posting ini dalam lara, dalam amarah, yang ingin meledak di suatu tempat dimuka bumi yang dihuni oleh sebuah kaum terkutuk, Yahudi la’natullah. Dan takkan ada kompromi untuk mereka dalam pikiranku, dalam jiwaku dan keyakinanku. Sejak dahulu, hingga saat ini, dan sampai mereka itu kelak bersembunyi di balik batu dan batu-batu itu berbicara menunjukkan persembunyian mereka, seperti janji Allah…

Dan sekali lagi aku menangis. Sedikit meraung. Menyesali ketidak berdayaan diri. Menyaksikan deretan wajah anak-anak tanpa dosa yang menjadi korban kebiadaban. Meski ku tahu di wajah mereka ada bahagia. Sebab merekalah anak-anak surga. Dan aku tak faham, mengapa potret ini tak mampu menyentuh hati sebagian orang.

music mp3



Embed at musik-live.net

Selasa, 13 Januari 2009

Yakin Akan Datangnya Pertolongan Allah

''Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Sehingga, Allahlah yang harus memberi rezeki kepadanya dan kepadamu, Dialah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'' (QS Al Angkabut [29]: 60).

Betulkah ekonomi yang tak menentu sekarang ini yang menyebabkan 'penyakit' panik sangat mudah menyerang bangsa kita? Barangkali tidak, jika kita menyelam ke inti persoalannya, bahwa bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan kita umumnya tidak memiliki keyakinan. Karena tidak optimistis, kita menjadi gamang, marah, takut, dan khawatir yang berlebihan. Selanjutnya, tidak adanya keyakinan itu kadang mendorong kita nekat bertindak yang tak terhormat.

Tanpa keyakinan, manusia tak bisa hidup. Akan terus diselimuti keragu-raguan yang mematikan. Keraguan itu menjadi sebab dari ketidaktenangan hidup dan perasaan tidak aman. Maka, kita harus yakin bahwa kita hidup di dunia ini bukan kemauan kita sendiri. Bukan karena kemauan orang tua. Juga tidak atas usulan siapa pun juga. Kita lahir dan hidup di dunia ini karena kehendak Allah.

Karena lahir dan hidup atas kehendak-Nya, maka Dialah yang akan mengurus kita. Jika Allah telah menciptakan kita, maka Dia tentu yang memelihara kita. Keyakinan ini harus ditanamkan pada diri kita, agar tidak takut menghadapi kesulitan hidup. Bukankah kehidupan itu sendiri merupakan bagian dari ciptaan Allah?

Bagaimanapun hebatnya krisis, tak perlu takut dan khawatir kekurangan rezeki Allah. Yang menjamin rezeki kita selama ini bukan manusia atau negara. Melainkan Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kepada-Nya kita meminta dan mohon bantuan serta perlindungan-Nya. Jika suatu persoalan diselesaikan dengan emosi, hasilnya pasti merugikan masyarakat dan diri sendiri. Bila kini kita diuji dengan krisis ekonomi, maka dengan modal keyakinan kita gerakkan seluruh potensi yang kita miliki untuk mengatasinya.

Memang diperlukan sedikit kesabaran, di samping kerja keras dari semua komponen di negeri ini. Jaga kesatuan dan persatuan, dengan itu kita bisa maju. Sebaliknya, jika kita terpecah dan saling menyalahkan kehancuran akan datang. ''Bersatu (jamaah) akan mendapatkan rahmat, dan berpecah belah mendapatkan bencana (azab).'' (HR Ahmad). Dan, siapa yang akan menyanggah janji Allah bahwa dia menjamin akan mengangkat setiap problem kita? ''Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.'' (QS Al Insyirah [94]: 5-6).

Ayat tersebut diulang sampai dua kali secara berturut-turut, yang maksudnya untuk menyakinkan kita bahwa bersama kesulitan itu ada solusi yang terbaik. Masihkan kita tidak yakin, masihkan kita gamang melihat hidup?

Jumat, 09 Januari 2009

RASULULLAH S.A.W. DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah s.a.w. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w. wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah s.a.w. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

NIAT TAUBAT MENUKAR ARAK MENJADI MADU

NIAT TAUBAT MENUKAR ARAK MENJADI MADU

Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau terserempak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, "Apa yang engkau bawa itu?" Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasan, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. Walhal benda itu ialah khamar. Dalam keadaannya yang bercakap bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus minum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang ditegah oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditegah oleh agama itu.

Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, "Kendi ini berisikan madu." Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah s.w.t. seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.

Allah Taala berfirman:, "Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari 'Nahrul Khabal'.
Ketika ditanya, "Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?" Jawab Rasulullah s.a.w., "Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! "